Minggu, 13 Oktober 2013

Menulis Buku Dalam Keterbatasan

0 komentar
Hari sabtu kemarin, tepatnya tanggal 12 oktober 2013 adalah hari yang menjadi pelecut semangat bagi saya untuk terus menulis. Bukan hanya sekedar menulis saja, tapi saya juga bersemangat untuk menghasilkan sebuah buku. Semangat untuk terus menulis ini tidak muncul begitu saja secara tiba-tiba akan tetapi semangat ini hadir ketika saya menghadiri bedah buku di gramedia bookstore di matraman.

Sebenarnya bedah buku merupakan acara yang biasa diadakan di berbagai bookstore, dengan berbagai genre buku baik itu novel, buku kumpulan puisi, buku yang bersifat religi dan berbagai genre lainnya. Tapi bedah buku, tepatnya bedah novel yang saya datangi kemarin bukanlah bedah novel biasa, melainkan bedah novel yang luar biasa. Kenapa saya bilang luar biasa?, karena novel itu ditulis oleh seseorang yang memiliki keterbatasan fisik, dia adalah seorang yang tuna netra. Namanya Radhitiya adhikara.

Novel yang dia tulis berasal dari kisah hidupnya di masa lalu. Di dalam menggarap novel tersebut dia bekerja sama dengan novelis kawakan yaitu mba Achi TM. Novel yang ditulis berbeda dengan novel lainnya karena terdiri dari 2 buku yang merupakan satu cerita, 1 buku ditulis oleh RA dan 1 buku lagi ditulis oleh mba Achi. Judulnya “mata kedua” dan “hati kedua”. RA membuat novel ini dalam waktu 15 tahun. Waktu yang cukup lama memang, tapi sepertinya waktu yang lama tersebut tidak akan terlihat sia-sia karena novel tersebut menyimpan cerita yang begitu dalam, yang tidak akan mengecewakan para pembacanya. Dan boleh jadi novel tersebut akan jadi best seller novel di Indonesia.

Itulah sedikit hal yang bisa saya ceritakan dari pengalaman saya ketika menghadiri bedah buku kemarin. Dari pengalaman saya tersebut teman-teman pembaca bisa mengambil sebuah catatan penting bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berkreasi. Bagi kita yang memiliki fisik yang terbilang sempurna, tidak ada kecacatan, maka cerita di atas sudah seharusnya menjadi tamparan bagi kita. Tamparan yang membangunkan kita dari rasa malas, tamparan yang membuat kita berhenti untuk banyak membuat alasan terlebih bagi kita yang memiliki mimpi untuk jadi penulis sukses.

Kita sudah seharusnya sadar, siapapun bisa menulis. Alasan kita bahwa menulis itu sulit, menulis itu adalah bakat dan berbagai alasan lainnya harus dihilangkan. Membuat banyak alasan hanya akan membuat akan diam, tidak menghasilkan apa-apa kecuali keluhan dan keterbuangan waktu. Bagi seorang RA yang memiliki mata yang buta, dimana hanya kegelapan yang dia rasakan saja dia bisa menulis sebuah novel. Dimana novel yang dia tulis tidak bisa dia gambarkan secara visual, tapi dia menggambarkan berbagai setting di novelnya berdasarkan apa yang ia dengar. Kita yang saat ini mampu melihat sudah seharusnya bisa melakukan apa yang telah dilakukan oleh RA.

Jadi, marilah kita buktikan akan kemampuan diri kita. Kemampuan seseorang yang memiliki tubuh normal. Kemampuan yang sudah sewajibnya bagi kita untuk dioptimalkan sehingga menghasilkan sebuah karya yang luar biasa. Ayo semangat menulis, semangat berkarya dan semangat untuk menjadi penulis sukses.

Sekian, Semoga Bermanfaat

-PangeranMenulis-


Read full post »

Tulislah rutin walaupun sedikit & Konsistenlah

0 komentar
Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.  Pepatah ini memang benar adanya. Segala sesuatu yang sedikit jika dikumpulkan dalam waktu yang berkesinambungan akan menjadi banyak. Seperti itu juga dalam hal menulis. Ketika kita memulai menjadikan menulis sebagai kegiatan harian kita, maka seperti yang kita pernah rasakan ketika pertama kali membuat sebuah tulisan, dimana tulisan tersebut kita kita kerjakan dengan memutar otak, menguras pikiran dan hasilnya hanya beberapa paragraf. Selanjutnya sedikit demi sedikit seiring dengan konsistensi dan pengalaman kita, tulisan kita semakin panjang dan semakin banyak jumlahnya.

Di dalam menulis memang tidak semuanya dimulai dari yang sedikit, ada juga yang langsung memulainya dengan begitu banyak paragraf di dalam tulisan yang pertama dibuat, dan ini sah-sah saja. Akan tetapi yang menjadi catatan penting bagi kita di dalam awal-awal menulis, yang dibutuhkan bukanlah panjangnya sebuah tulisan melainkan seberapa besar konsistensi penulis pemula di dalam menulis. Karena tidaklah begitu besar efeknya jika kita menulis tulisan yang panjang akan tetapi frekuensinya hanya seminggu atau sebulan sekali. Akan tetapi ketika kita menulis sebuah tulisan walaupun pendek dan rutin tiap hari maka ini yang akan memberikan efek besar bagi kita, efek yang akan membuat pikiran lebih mudah di dalam mengeksplorasi sebuah ide serta tema dan tangan kita akan lebih ringan ketika diminta untuk menulis atau mengetik.

Proses menulis rutin ini memang terlihat mudah, akan tetapi agak sulit juga ketika dijalankan, terlebih ketika baru memulainya. Dan banyak juga orang-orang yang tumbang dalam proses ini dikarenakan kurang kuatnya niat mereka untuk menjadi penulis sukses. Mereka menyerah juga dikarenakan sulitnya mendapatkan ide untuk menulis di hari itu, sehingga akhirnya dia melewatkan hari itu tanpa tulisan, selanjutnya berulang dan berulang hingga akhirnya kegiatan menulis pun terhenti.

Inilah satu hal penting di dalam dunia penulisan, khususnya bagi penulis pemula. Yaitu sebuah konsistensi. Tulisan yang bagus dan berkualitas dibangun dari besarnya konsistensi seseorang di dalam menulis. Sebagaimana kokoh dan besarnya tembok cina yang tidak dibangun dalam 1 hari, melainkan berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Menulis pun seperti itu. Semakin kita konsisten di dalam menjalani proses kesehariannya, hingga berjalan bulan dan bertemu tahun, maka sudah sejatinya kualitas menulis kita akan semakin meningkat dan semakin “kokoh”.

Jadi marilah kita mulai bangun konsistensi menulis di diri kita. 1 hari 1 tulisan. Apapun itu. Kelak seiring berjalannya waktu kita akan menemukan sendiri gaya tulisan kita dan bahasan apa yang kelak akan kita tulis. Bagi teman-teman yang membaca tulisan ini, marilah di mulai dari sekarang menulis rutin dan konsistensilah. Karena segala hal yang kita kerjakan berulang-ulang dalam waktu yang lama akan menjadikan kita ahli di dalam pekerjaan tersebut. Ketika kita menulis berulang-ulang kali bertahun-tahun lamanya, maka kita pun akan menjadi ahli di dalamnya. Dan jelaslah jika sudah seperti ini, maka bukanlah hal yang sulit bagi kita untuk menghasilkan sebuah buku. So. Mari menulis rutin.

Sekian, Semoga Bermanfaat


-PangeranMenulis-
Read full post »

Senin, 07 Oktober 2013

Hari yang berat

0 komentar
Hari ini adalah hari yang cukup berat. Bukan berat beban yang dibawa, bukan pula berat berbagai masalah yang dihadapi. Akan tetapi berat yang dimaksud adalah berat di dalam menulis sebuah tulisan untuk hari ini.

Seharusnya saya menulis pukul 06.00 pagi dan selesai pukul 07.00 wib. Tapi saat itu pikiran benar-benar blank, kosong. Mencari kesana-kemari tidak sama sekali mendapatkan ide yang tepat yang pas untuk dituliskan. Akhirnya tugas menulis 1 hari 1 tulisan mundur dan tidak diketahui kapan harus dikerjakan.

Jam demi jam berlalu, dan tugas menulispun belum dikerjakan karena ada beberapa pekerjaan lain yang harus diselesaikan di hari ini. Dari mulai datang ke undangan pernikahan teman, bermain futsal dan beberapa kegiatan lainnya.

Tapi akhirnya setelah sekian jam berlalu, ide untuk menulis itu hadir, lebih kurang beberapa menit sebelum jam 00.00 wib. Dan benar, judulnya adalah hari yang berat, hari yang berat untuk menulis. Hari yang penuh keraguan untuk menulis. Padahal prinsip saya dalam menulis itu telah terngiang-ngiang di kepala ini, yaitu tulislah apa yang kamu ketahui, tulislah apa yang pernah kamu alami dan tulislah apa yang sedang kamu hadapi. Dan dari prinsip saya diatas maka tulisan ini bersesuain dengan prinsip yang terakhir, yaitu tulislah apa yang saat ini kamu hadapi.

Apa yang saat ini saya hadapi bisa menjadi sebuah ide, bahan untuk dijadikan sebuah tulisan. Teman-teman pembaca pun bisa melakukan apa yang telah saya buat di dalam prinsip menulis saya. Memang terlihat sulit, tapi ketika dipikirkan dengan tenang dan mendalam, maka menulis terasa begitu ringan, seringan tulisan ini yang bisa saya selesaikan dalam waktu kurang dari 10 menit. Mungkin bagi para penulis terkenal bisa membuat tulisan seburuk tulisan saya ini dalam waktu kurang dari 3 menit. Namun bagi saya, seorang newbie dalam bidang menulis, hal ini merupakan hal yang cukup luar biasa.

Baiklah teman-teman pembaca, sampai disini dulu tulisan saya untuk hari ini. Semoga dari tulisan ini dapat diambil manfaatnya yang sedikit banyak bisa menjadi insiprasi bagi teman-teman. Sampai berjumpa dengan tulisan saya yang selanjutnya.

Sekian, Semoga Bermanfaat


-PangeranMenulis-  
Read full post »

Sabtu, 05 Oktober 2013

Menulis atau Mati?

0 komentar
Terkisahkan pada abad 17 masehi di suatu desa sebut saja desa corzuile, dimana di desa tersebut itu tulis-menulis merupakan hal yang wajib dilakukan oleh setiap pemuda dan pemudi. Maka setiap orang tua di desa tersebut benar-benar menerapkan pendidikan menulis yang ketat, agar nanti di masa depan sang anak bisa menguasai dunia tulis-menulis.

Pada suatu waktu, pejabat daerah mencoba melakukan razia di desa untuk mencari adakah para pemuda dan pemudi yang tidak bisa sama sekali menulis, baik itu berbentuk cerita, puisi ataupun sekedar berita baik itu sekedar pendapat ataupun kisah nyata. Tidak lama berselang, akhirnya para pejabat menemukan lebih kurang 30 orang yang tidak bisa menghasilkan sebuah tulisan. Ketika ditanya kenapa mereka tidak bisa menulis, beberapa berasalan, saya tidak memiliki bakat dalam dunia menulis, yang lain berasalan saya tidak memiliki ide untuk menulis sebuah tulisan dan banyak alasan lainnya.

Akhirnya dikarenakan wajibnya tulis menulis bagi pemuda dan pemudi, akhirnya mereka yang telah diketahui tidak bisa menulis, dipaksa oleh pejabat desa untuk mengikuti pelatihan menulis. Pelatihannya diadakan diatas kapal kayu, yang terdiri dari 3 kapal, masing-masing kapal berisikan 10 orang peserta dan 1 orang pementor. Pelatihan diadakan dilaut, sebelum pelatihan dimulai, peserta ditutup matanya sebelum menaiki kapal, dan hingga kapal dikayuh sejauh 500 meter dari tepian pantai, semua penutup mata yang dikenakan peserta dibuka. Dan betapa kagetnya para peserta ketika mereka menyadari bahwa mereka berada dikapal kayu yang mengambang di tengah laut jauh dari tepi.

Sang pementor mulai membuka sesi pelatihan menulis. Dia mulai berkata “saya disini hanya mengarahkan, tidak memberikan bagaimana caranya menulis dengan panjang lebar, cara yang mudah bagi kalian untuk bisa membuat sebuah tulisan adalah dengan menulis, terserah apa yang kalian ingin tuliskan, laut birukah, butiran pasirkah atau apapun yang ada di pikiran kalian. Sekarang saya meminta kalian untuk membuat tulisan di kertas kosong yang telah disediakan. Saya memberikan waktu bagi kalian selama 60 menit. Dimulai dari sekarang”.

Sejenak kemudian, semua peserta berteriak secara bersamaan mengungkapkan berbagai alasan, “saya menulis 1 paragraf saja tidak bisa apalagi 1 kertas penuh, 1 hari pun disediakan waktunya, saya tidak akan mungkin bisa”, “saya sama sekali tidak memiliki bakat menulis, cara pelatihan seperti ini hanya membuang waktu, sia-sia”, “saya tidak memiliki ide, saya hanya orang bodoh, tidak akan mungkin saya bisa menulis”, dan masih banyak alasan lain dari para peserta yang menjelaskan akan ketidakmampuan mereka di dalam menulis. Dan mereka pun bersepakat agar ada cara atau metode lain di dalam pelatihan menulis saat ini.

Sang pementor diam sejenak, memikirkan cara yang tepat. Akhirnya terlihat senyum di bibirnya menandakan dia memiliki ide yang cemerlang yang bisa membuat para peserta bisa memulai untuk menulis. Sang pementor pun menyampaikan metode baru yang tepat untuk diterapkan kepada para peserta, “baiklah, aku telah menemukan metode yang tepat, dan aku pastikan kalian pasti bisa menulis, tanpa kesulitan sedikitpun, siapkah kalian mendengerkan metodeku?”. Seluruh peserta akhirnya tersenyum karena mereka terhindar dari menulis, dan mereka pun dengan senang hati mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh sang pementor, “ya kami siap”.

Sang pementor tersenyum, dan memberikan penjelasan kepada para peserta dengan penuh semangat membara, “baiklah jika kalian semua bersedia, sekarang metodeku untuk bisa membuat kalian menulis adalah, aku akan memberikan 2 pilihan bagi kalian, 1 kalian menulis di 1 kertas kosong selama 60 menit atau jika kalian tidak menyelesaikannya, maka ada 1 pilihan baik kalian yaitu, silahkan melompat dari kapal ini tanpa pelampung, dan jangan berharap kalian akan kami tolong. Tidak ada kata tapi. Silahkan mulai menulis dari sekarang waktu berjalan dimulai dari hitungan ke 3, 1, 2, 3 mulai. Bagi yang membantah akan langsung kami lemparkan ke laut”.

Seketika para peserta terdiam, muka mereka pucat. Seakan tidak ada pilihan lain di tangan mereka, akhirnya 1 per 1 dari mereka pun mulai menulis, hingga akhirnya semua peserta mulai menulis kata demi kata, kalimat demi kalimat serta baris demi baris. Tanpa terasa waktu telah berlalu lebih dari 60 menit, akan tetapi para peserta masih terus menulis, bahkan tulisan mereka melebihi dari 1 lembar kosong sebagaimana yang telah diperintahkan oleh sang mentor.

Satu per satu dari mereka akhirnya mulai berhenti menulis, yang menandakan bahwa mereka telah menyelesaikan tulisannya. Dan akhirnya sang mentor meminta kepada para peserta untuk memperhatikan tulisan di kertas yang telah mereka selesaikan. Maka secara serentak para peserta kaget bukan kepayang, melihat hasil tulisan mereka, yang ternyata melebihi dari tugas yang telah diberikan. Dan akhirnya mereka pun sadar bahwa mereka bukanlah tidak memiliki kemampuan menulis, melainkan mereka memang tidak mau dan terlalu hebat di dalam membuat banyak alasan tidak bisa menulis.

Sebelum menutup pelatihan tersebut, sang mentor memberikan wejangan kepada para peserta pelatihan paksaan menulis tersebut “wahai pemuda dan pemudi, ingatlah oleh kalian bahwa tidaklah dibutuhkan sedikitpun bakat untuk menulis. Untuk bisa membuat tulisan hanya dibutuhkan gerakan tangan yang terus menerus menuliskan kata demi kata, hingga menjadi kalimat demi kalimat dan akhirnya terbentuklah paragraf demi paragraf yang hasilnya adalah sebuah tulisan. Janganlah kalian memikirkan apa yang kalian akan tulis, tapi sebagai langkah awal di dalam menulis yang kalian perlu lakukan adalah menuliskan apa yang kalian pikirkan. Hanya semudah ini. Jika diri ini masih berat untuk menulis, maka 1 hal yang harus kalian lakukan, paksalah, paksalah tangan kalian untuk menulis, apapun itu. Tulislah apapun yang kalian ketahui, tulislah apapun yang kalian pernah alami, tulislah apapun yang hadapi. Karena dalam memulai suatu yang baru memang terasa berat, dan dibutuhkan paksaan akan hal tersebut bisa dilakukan, semakin sering kalian memaksa diri kalian, maka semakin lama diri kalian akan semakin terbiasa. Jadi aku berharap kepada kalian, agar teruslah kalian menulis, karena menulis adalah hal yang mudah, tidak sampai kalian harus mati dahulu untuk bisa membuat sebuah tulisan, karena tidak dibutuhkan rasa sakit untuk bisa menulis. Dan terlalu merugi bagi kalian jadi kalian baru bisa menulis ketika diberikan 2 pilihan, menulis atau mati. Hahahaha”

Akhirnya dari pesan sang mentor tersebut, terbukalah pikiran semua peserta akan gembok yang selama ini mengunci pikiran mereka bahwa begitu sulitnya menulis. Dan akhirnya setelah pelatihan menulis tersebut berlalu, hari-hari mereka terus diisi dengan menulis, baik itu berupa puisi, cerita ataupun berita.

Singkat cerita telah berlalu 1 dasawarsa, para pemudi dan pemudi peserta pelatihan yang dulu begitu sulitnya menulis sebuah tulisan, kini mereka memiliki profesi yang luar biasa tidak pernah diduga, ada yang menjadi pemimpin redaksi Koran ternama, penulis novel terkenal juga penulis sejarah masa lampau. Tangan mereka akhirnya menjadi ringan, ringan dalam membuat sebuah tulisan, seakan bulu yang beterbangan diterpa angin yang bertiup menyeberangi lautan. ^_^

Sekian, Semoga bermanfaat

-PangeranMenulis-



Read full post »

Selasa, 01 Oktober 2013

1 + 1 = 2

1 komentar
Teman-teman pasti tidak asing ketika mendengar kata yang satu ini, ketika saya mengatakan mate-matika (MTK), maka akan otomatis tergambar di dalam pikiran teman-teman sebuah pelajaran yang rumit, penuh dengan rumus dan mungkin juga bagi sebagian lain akan tergambar hal yang lebih ekstrem, yaitu sebuah pelajaran mengerikan yang harus dihindari sejauh mungkin, bukan hanya pelajarannya akan tetapi boleh jadi gurunya pun harus dihindari.

Itulah MTK, dimana kehidupan kita tidak bisa lepas darinya dari mulai balita hingga nanti tua renta, dia akan selalu mengiringi hidup kita. karena hidup kita tidak bisa lepas dari penambahan, pengurangan perkalian dan pembagian. MTK begit unik, ada yang menyukainya ada pula yang membencinya. Ada yang kecanduan untuk  memecahkan kesulitan di dalamnya dengan berbagai rumus-rumusnya, ada pula yang berlari dari kerumitan angka-angkanya dan berbagai lambang-lambangnya.

Akan tetapi sadarkah kita dibaliknya kerumitannya, MTK yang seringkali menjadi momok menyeramkan bagi kehidupan kita ternyata diawali dengan hal yang begitu ringan lagi mudah untuk dijalankan. Ketika kita sekolah baik di taman kanak-kanak maupun sekolah dasar, setiap guru akan memulai pelajaran MTK dengan rumus tambah-tambahan yaitu 1 + 1 = 2. Begitu mudah begitu ringan, tanpa beban tanpa kesulitan, dan siapapun bisa melakukannya serta mengingatnya. Walaupun semakin lama, akan semakin sulit, dimana kita akan menemukan beratus-ratus rumus, tapi tetaplah pelajaran MTK pasti dimulai dari 1 + 1 = 2.

Mungkin bagi sebagian kita, semakin tingginya level kita di sekolah, maka akan semakin sulit pelajarannya MTKnya, tapi bagi sebagain lain yang mengagumi pelajaran MTK dan menikmati tiap detik langkah-langkah rumusnya, maka semakin tinggi levelnya di sekolah dan semakin sulit soal MTK yang dihadapi, maka akan terasa semakin menarik tantangan yang dihadapinya.

Jika kita menyadari atas penjelasan diatas, segala sesuatu yang berkaitan dengan keahlian dan keterampilan, maka pelajaran mtk tadi bisa kita jadikan acuan. Semisal di dalam keahlian menulis, dimana menulis pasti diawali dari hal yang mudah yaitu dengan menulis sebuah huruf, dan diteruskan dengan rangkaian huruf sehingga membentuk sebuah kata, dilanjutkan dengan merangkai sebuah kata sehingga menjadi kalimat sebagaimana 1 + 1 = 2, ibu + budi = ibu budi, dst. Semakin kalimat dirangkai maka akan membentuk paragraf, seperti itulah langkah-langkahnya sehingga menjadi sebuah tulisan atau artikel. Dalam sepak bola pun seperti itu, semua diawali dari hal yang mudah yaitu menendang, kemudian berlanjut dengan mengontrol bola, menggiring dan menggocek lawan.

Semua keahlian apapun dimulai dari hal termudah hingga akhirnya kita sampai kepada hal yang tersulit, jadi ketika kita ingin menguasai satu keahlian, maka mulailah dengan hal yang mudah, dan jangan memberatkan diri ini dengan hal-hal yang sulit. Nikmati prosesnya perlahan-lahan. Jangan melangkah terlalu jauh untuk melakukan hal yang sulit, sedangkan untuk melaksanakan yang mudah saja kita masih terseok-seok.

Seiring berjalannya waktu, ketika awal yang mudah sudah terbiasa dilakukan oleh kita, maka dengan sendirinya kita akan mampu melewati level-level selanjutnya yang lebih sulit, dimana ketika sebelumnya kita melakukannya dengan penuh keterpaksaan, maka kelak dengan sendirinya kita akan melakukannya dengan penuh kerelaan bahkan tanpa kesadaran alias otomatis.


Jadi setiap keahlian apapun itu PASTI dimulai dari hal yang terMUDAH. Maka berpikir positiflah, bahwa apapun itu kita pasti bisa melakukannya, menggapainya dan menguasainya. Mulai saat ini pikirkanlah apa impian kita, kemudian tetapkanlah. Lihat apa hal mudah yang bisa kita mulai untuk menggapainya, lakukanlah berulang-ulang, kemudian tingkatkanlah levelnya seiring berjalannya waktu, maka kelak nanti tanpa kita sadari, segala kesulitan yang  ditakutkan pada saat ini akan kita lakukan dengan mudah dimasa yang akan datang . Dan saat itu kita pun diluar kesadaran kita, impian tersebut telah kita gapai. Atau tanpa disadari pula, sebuah keahlian yang saat ini hanya mimpi, akan menjadi kenyataan di masa depan.

Semoga Bermanfaat

-PangeranMenulis-
@AbdulMhakin
Read full post »

Kamis, 19 September 2013

Menulis itu Bakat?

1 komentar
Seringkali kita dapatkan perkataan orang-orang yang ada di sekitar kita atau bahkan perkataan kita sendiri, dimana ketika kita melihat seseorang yang hebat di dalam satu hal, semisal pesebakbola lionel messi yang hebat di dalam bermain sepak bola, valentino rossi yang hebat di dalam menunggangi motor balap moto gpnya, atau kobe Bryant yang hebat di dalam olahraga basket dan masih banyak person-person lainnya, bahwa mereka hebat disebabkan bakat alam yang ada di dalam dirinya, sehingga kita sebagai pemerhati mereka hanya bisa mengagumi mereka dan merasa tidak mampu menjadi hebat seperti mereka dikarenakan kami tidak memiliki bakat seperti mereka.

Dalam hal menulis, banyak juga diantara kita yang bersifat seperti itu, dimana ketika kita membaca buku atau novel semisal karya seorang penulis seperti kang abik yang karyanya begitu unik dan mampu membuat orang-orang yang membacanya terkagum-kagum dikarenakan cerita yang dibuatnya seakan-akan nyata, kita hanya bisa bilang bahwa kang abik itu hebat, dia memang sudah memiliki bakat menulis, jadi kita tidak akan bisa menjadi hebat seperti dia di dalam menulis.

Padahal jika sadari bahwa siapapun itu, baik itu kang abik, messi, valentine rossi, mereka menjadi hebat di dalam bidangnya bukan hanya karena bakat yang ada di dalam dirinya melainkan mereka juga terus-menerus meningkatnya kualitas dirinya dengan berlatih, belajar dalam rentang waktu yang cukup lama, pantang menyerah dan bekerja keras dengan maksimal. Jika kita ingin menyamai mereka, kita pasti bisa, tapi jelas syaratnya tidaklah ringan. Jika kita ingin menyamai mereka, maka kita harus mengikuti cara-cara yang mereka lakukan untuk bisa menjadi seperti sekarang ini, semisal messi yang berlatih berlatih tiap hari berjam-jam, bahkan dia sendiri memiliki masalah pada kakinya ketika masih kecil, tapi itu semua tidak menjadi halangan baginya, dan berkat latihannya dan kerja kerasnya maka dia bisa menjadi hebat seperti sekarang ini.

Jadi jika kita memang memiliki mimpi untuk menjadi seorang penulis yang hebat, menghasilkan banyak karya, maka tidak ada lagi alasan bakat, karena pengaruh bakat hanya beberapa persen saja bagi kesuksesan kita, yang lebih berpengaruh pada kesuksesan kita adalah niat yang kuat, kerja keras dan terus-menerus menjadikan menulis sebagai sebuah kegiatan rutin kita tiap hari. Tidak ada orang yang hebat tanpa berlatih, dan tidak ada orang yang ujug-ujug langsung ahli tanpa melalui proses mencoba dan belajar.

Paksakanlah diri untuk menulis, biasakanlah menulis, apapun itu, seburuk apapun tulisan kita. Buat menulis menjadi kebiasaan dalam hidup kita, semakin sering kita menulis, maka akan semakin bertambah kemampuan menulis kita dan jelas akan semakin baik kualitas tulisan kita. Kemudian iringi kegiatan menulis tersebut dengan banyak membaca tulisan-tulisan orang yang lain, dan banyak-banyaklah meminta masukan dari penulis-penulis yang sudah senior. Insya Allah dengan beberapa cara diatas, akan memudahkan jalan bagi kita untuk menjadi penulis yang hebat. Jadi ingat sekali lagi ya, bahwa menulis bukanlah bakat, tapi menulis itu adalah sebuah kebiasaan. So biasakanlah menulis, insya Allah jadi penulis hebat bukan lagi menjadi mimpi bagi kita.


Semoga bermanfaat 

-Pangeranmenulis-
Read full post »

Sabtu, 14 September 2013

Motivasi Menulis

0 komentar
Bagi orang yang kurus seperti saya berlari ada olahraga yang tidak terlalu berat bagi saya, saya bisa berlari atau lebih tepatnya jogging beberapa kilometer dengan kondisi badan yang seperti ini. Bermain aktif dalam sepakbola pun saya mampu walaupun harus bermain ber jam-jam. Sebaliknya bagi orang yang berpostur gemuk dengan berat badan jauh diatas normal, lari merupakan hal yang berat untuk dilakukan. Pun berlari mereka hanya mampu berlari beberapa kilometer, itupun sangat lambat.

Semangat berlari bagi orang yang gemuk tidak terlalu besar dikarenakan beratnya beban yang mereka bawa ketika berlari, akan tetapi semangat itu bisa meningkat ketika dia memiliki motivasi ketika melakukannya semisal dia ingin mengurangi berat badannya atau bahasa populernya diet. Maka lambat laun secara otomatis tubuhnya agak lebih mudah digerakkan untuk berlari walaupun sebelumnya dirasa sulit.

Terkait dengan tulisan diatas, di suatu waktu ada seseorang yang berat badannya diatas normal, dia adalah orang yang malas untuk berolahraga, jangankan berlari, main bulutangkis pun dia malas. Dia sendiri mengakui bahwa sulit baginya untuk berlari, dikarenakan berat badannya sudah terlalu over hingga berjalan pun sulit untuk dilakukannya. Akan tetapi di suatu waktu yang tidak diduga dia berjalan melewati rumah yang ada angjing dihalamannya, secara tiba-tiba anjing itu mengejar seseorang tadi, dan apa yang terjadi?, dengan usaha yang keras si orang dengan berat badan over tadi berlari dengan kencang, dan tanpa sadar dia sudah berlari beratus-ratus meter dengan kecepatan diatas normal. Anjing pun tidak bisa mengejarnya, dan dia pun berpikir, kenapa dia bisa berlari secepat itu bahkan sampai sejauh itu.

Cerita diatas memberikan pelajaran kepada kita akan pentingnya sebuah motivasi atau sebuah alasan kenapa kita harus bergerak melakukan sesuatu. Tanpa adanya alasan atau motivasi di dalam mengerjakan sesuatu tersebut maka jelas kita akan selalu merasa berat di dalam melakukannya. Dan motivasi dalam diri datang dalam bentuk yang berbeda, baik itu motivasi yang dihadirkan oleh diri sendiri, orang lain atapun motivasi yang dipaksakan. Hal ini bisa terjadi di dalam kondisi apapun dan di dalam melakukan apapun.

Sebagai contoh jika dikaitkan dengan menulis. Ada orang yang giat menulis karena ini menghasilkan karya yang bisa memberikan manfaat lewat buku, lewat tulisan-tulisannya, meskipun kelak dia telah meninggalkan bumi ini, tapi tulisannya tetap tertinggal di bumi dan dibaca oleh penduduk bumi. Ada juga orang-orang yang motivasi menulisnya karena uang, karena ketika mereka menulis buku secara tidak langsung ketika buku yang ditulisnya laku dipasaran, maka sudah pastinya royalty atas buku yang ditulis olehnya akan mengalir ke pundi-pundi keuangannya. Di lain sisi, ada juga orang-orang yang tidak menulis akan tetapi dipaksa untuk menulis, semisal para mahasiswa yang menulis skripsi. Di hari-hari biasa ada sebagian mereka yang mengatakan tidak bisa menulis, bahkan untuk menulis artikel ringan. Akan tetapi mereka dipaksa (diwajibkan) untuk membuat skripsi sebagai syarat kelulusan, maka tidak ada pilihan lain bagi mereka untuk membuat sebuah skripsi yang berpuluh-puluh lembar bahkan ratusan lembar.


Jadi apapun yang kita lakukan apapun itu, dan salah satunya adalah menulis, semua bisa kita lakukan, tidak ada kata tidak bisa, semua tergantung atas motivasi kita di dalam melakukannya. Jika tidak ada motivasi atau alasan untuk menulis, maka sudah dipastikan tidak aka nada tulisan yang kita buat. Jadi jika kita bercita-cita untuk menjadi seorang penulis, dan mengalami tantangan berat di awal, maka hadirkanlah motivasi/alasan terbaik yang menggerakkan tangan kita untuk menulis. Jika sulit tangan ini untuk menulis walaupun keinginan untuk menulis sangat kuat, maka buatlah diri kita menjadi terpaksa untuk menulis. Insya Allah, ketika sudah terbiasa dipaksa, maka kelak ke depannya ketika menulis sudah menjadi habit, menulis bukan lagi menjadi hal yang berat melainkan menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Semoga bermanfaat

-PangeranMenulis-
Read full post »
 

Copyright © PangeranMenulis Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger