Kamis, 03 Oktober 2013

Belajar dari Sang Kakek Pedagang Koran

1 komentar
Pada waktu pagi hingga sore hari kemarin telah saya habiskan untuk kegiatan di luar rumah. Dari mulai tahsin di pagi hari hingga bersilaturrahim ke kantor lama saya. Ada satu hal menarik yang saya alami, dan ini terlalu sayang jika tidak saya torehkan di dalam sebuah tulisan, semoga teman-teman yang membaca tulisan ini bisa mendapatkan manfaat dari apa yang saya ceritakan ini.

Tepat sekitar pukul 09.30 wib, saat itu posisi saya berada di bus transjakarta dalam perjalanan menuju kampung melayu menuju senen dan seperti biasa, ketika tidak mendapatkan tempat duduk maka saya lebih suka untuk berdiri disebelah pintu dan menyenderkan badan di kaca yang membatasi antara penumpang yang duduk dengan pintu busnya.

Bus transjakarta terus melaju hingga akhirnya terhenti tepat di lampu merah rs carolus, disitu saya melihat ada seorang kakek pedagang koran yang sedang menghitung uang hasil penjualan korannya, bagi ukuran dia mungkin cukup besar, yaitu beberapa lembar sepuluh ribuan dan sisanya berlembar-lembar uang dua ribuan. Pada saat itu waktu masih bisa disebut pagi hari, tapi dari usahanya yang keras sang kakek sudah bisa mendapatkan hasil yang lumayan besar. Mungkin baginya cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari kehidupan bagi keluarganya. Begitu terpancar rona kebahagiaan di wajahnya ketika menghitung uang tersebut.

Kemudian bus melaju, dan saya tersenyum melihat sang kakek hingga akhirnya pandangan ini berlalu dari sang kakek. Sejenak saya berpikir boleh jadi sang kakek bukanlah seseorang dengan gelar sarjana bahkan boleh jadi lulus sd pun tidak. Akan tetapi hidupnya dia lalui dengan rasa optimis yang tinggi, dia terus berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan uang yang kelak akan ditukarnya dengan sesuap nasi bagi dirinya dan keluarganya. Sebaliknya saya pun memikirkan juga pada saat ini begitu banyak orang-orang yang bertitel sarjana, atau lulusan sekolah menengan atas yang jelas secara pendidikan lebih baik daripada sang kakek, akan tetapi hidupnya dilingkupi dengan rasa pesimis, mereka hanya berpikir uang hanya bisa di dapatkan dengan cara bekerja di perkantoran. Karena baginya berjualan itu apalagi ngasong di lampu merah merupakan hal yang boleh jadi hina, apalagi harus berpanas-panasan di tengah terik matahari yang meninggi belum lagi kotornya asap kendaraan.

Uniknya lagi, tidak sedikit dari mereka yang telah mengirim lamaran kesana kemari mengalami yang namanya stress lagi frustasi, dan kemudian mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Karena dia putus asa tidak bisa mendapatkan pekerjaan, sedangkan tekanan terus datang dari keluarga agar segera bekerja. Inilah hal yang banyak terjadi di negeri ini. Bagi kebanyakan orang uang = bekerja sebagai karyawan. Padahal dalam keadaan yang sebenarnya uang = bekerja/berdagang. Yaitu uang bukan hanya bisa dihasilkan dari bekerja sebagai karyawan saja, tapi dengan berdagang pun kita bisa menghasilkan uang. Baik berdagang dari mulai pedagang asongan hingga pedagang restoran.

Jadi berdasarkan apa yang sudah saya paparkan diatas, sudah waktunya bagi kita saat ini untuk merubah mindset yang boleh jadi tertanam dalam-dalam di pikiran kita. Mulianya seseorang tidak di dilihat dari seperti apa dia bisa menghasilkan uang, tapi semua dilihat cara yang dilakukannya apakah ia mendapatkannya dengan cara yang halal atau haram. Bekerja kantoran bukanlah kewajiban, yang menjadi wajib bagi kita adalah bagaimana bisa mencari nafkah dengan cara yang di ridhoi Allah untuk menghidupi diri dan keluarga. Allah memerintahkan kepada kita agar senantiasa berusaha di dalam menggapai rezekinya, soal besar dan kecilnya Allah yang menentukannya. Mungkin kita memulai kehidupan mencari nafkah kita dengan mengasong, akan tetapi boleh jadi dengan usaha keras kita perlahan-lahan seiring dengan berkembangnya pikiran dan modal kita, kita menjadi bosnya para asongan atau lebih dari itu.

So, rezeki telah Allah tebarkan bagi kita, silahkan kita mengambilnya dengan cara yang kita mampu, jika memang kita ingin mendapatkannya dengan bekerja sebagai karyawan, ya silahkan. Akan tetapi jika kesempatan untuk menjadi karyawan tidak kunjung datang, maka berdagang merupakan pilihan yang bijak untuk dijadikan sebagai tempat untuk mengais rezeki yang telah ditebarkan oleh Allah.

Sekian. Semoga bermanfaat.


-PangeranMenulis-
Read full post »

Rabu, 02 Oktober 2013

“Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai”

0 komentar
Pepatah diatas seringkali saya baca di buku-buku motivasi dan buku-buku pengembangan diri. Pepatah yang memiliki kandungan makna dan pelajaran yang begitu dalam. Walaupun hanya terdiri dari beberapai kata, tapi kalimat tersebut menyiratkan pesan yang penting bagi kita untuk bisa dipahami dan dijalankan.

Jika kita pernah melihat petani yang menanam benih padi di persawahan, maka ketika panen kita akan melihat persawahan mulai menguning, dan padi sudah siap untuk dipanen, dikuliti kemudian dijual. Itulah proses penanaman padi yang berasalah dari benih padi. Begitu juga dengan tanaman lainnya pasti akan sama hasil yang kita tuai dengan yang kita tanam. Sebuah hal yang mustahil, ketika kita menanam ubi, maka hasil panen dari tanaman ubi tersebut adalah buah durian.

Itulah kehidupan, dan bukan hanya pada tanaman, di dalam kehidupan sehari-hari kita, pepatah tersebut juga berlaku. Ketika kita menanam berbagai kebaikan, maka hasilnya adalah kebaikan. Begitupun sebaliknya ketika kita menanam keburukan maka kelak kita akan memanen keburukan.

Sebagai contoh, ketika kita bersedekah dengan ikhlas. Secara langsung ataupun tidak langsung kita pasti merasakan efek dari sedekah kita, baik dalam bentuk kemudahan-kemudahan yang kita rasakan dan atau rezeki yang datang secara tiba-tiba. Dalam contoh lain, semisal orang yang melakukan tindakan korupsi, maka hasil dari tanaman korupsi yang telah ditanamnya adalah dia hidup di dalam ketidaktenangan, belum lagi jika dia diketahui telah melakukan tindakan tersebut oleh masyarakat, maka dia akan dilaporkan kepada yang berwajib, dan dikucilkan oleh masyarakat.

Begitupun dengan pikiran kita, ketika kita menanam pikiran-pikiran positif, penuh dengan optimisme dalam menghadapi masa depan, insya Allah langkah-langkah untuk menggapai kesuksesan akan terasa lebih mudah. Sebaliknya, ketika yang kita tanam adalah pikiran-pikiran negatif, penuh dengan pesimisme, maka sudah dipastikan langkah akan terasa begitu berat ketika dilangkahkan untuk menggapai kesuksesan.

Seperti itulah contoh kongkret dari pepatah diatas, masih banyak contoh-contoh lain yang bertebaran di dalam kehidupan kita.

Sebagai penutup dari tulisan ini, saya ingin mengutipkan beberapa Ayat Al-Qur’an yang boleh jadi merupakan sumber dari timbulnya pepatah diatas, dan ketika kita membaca pepatah tersebut kita bisa termotivasi untuk berbuat kebaikan, maka semoga dengan membaca ayat-ayat ini kita menjadi lebih termotivasi lagi.

Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. (Q.S. Thaha : 15)

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (Q.S. Ar-Rahman : 60)

Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu. (Q.S. An-Naml : 89)

Tanamlah segala hal yang baik dalam pikiran dan perbuatan kita. karena kelak insya Allah kita akan menunai berbagai kebaikan di dalam kehidupan kita. Selamat Menanam kebaikan.

Semoga Bermanfaat

-PangeranMenulis-
@AbdulMhakim
Read full post »

Selasa, 01 Oktober 2013

1 + 1 = 2

1 komentar
Teman-teman pasti tidak asing ketika mendengar kata yang satu ini, ketika saya mengatakan mate-matika (MTK), maka akan otomatis tergambar di dalam pikiran teman-teman sebuah pelajaran yang rumit, penuh dengan rumus dan mungkin juga bagi sebagian lain akan tergambar hal yang lebih ekstrem, yaitu sebuah pelajaran mengerikan yang harus dihindari sejauh mungkin, bukan hanya pelajarannya akan tetapi boleh jadi gurunya pun harus dihindari.

Itulah MTK, dimana kehidupan kita tidak bisa lepas darinya dari mulai balita hingga nanti tua renta, dia akan selalu mengiringi hidup kita. karena hidup kita tidak bisa lepas dari penambahan, pengurangan perkalian dan pembagian. MTK begit unik, ada yang menyukainya ada pula yang membencinya. Ada yang kecanduan untuk  memecahkan kesulitan di dalamnya dengan berbagai rumus-rumusnya, ada pula yang berlari dari kerumitan angka-angkanya dan berbagai lambang-lambangnya.

Akan tetapi sadarkah kita dibaliknya kerumitannya, MTK yang seringkali menjadi momok menyeramkan bagi kehidupan kita ternyata diawali dengan hal yang begitu ringan lagi mudah untuk dijalankan. Ketika kita sekolah baik di taman kanak-kanak maupun sekolah dasar, setiap guru akan memulai pelajaran MTK dengan rumus tambah-tambahan yaitu 1 + 1 = 2. Begitu mudah begitu ringan, tanpa beban tanpa kesulitan, dan siapapun bisa melakukannya serta mengingatnya. Walaupun semakin lama, akan semakin sulit, dimana kita akan menemukan beratus-ratus rumus, tapi tetaplah pelajaran MTK pasti dimulai dari 1 + 1 = 2.

Mungkin bagi sebagian kita, semakin tingginya level kita di sekolah, maka akan semakin sulit pelajarannya MTKnya, tapi bagi sebagain lain yang mengagumi pelajaran MTK dan menikmati tiap detik langkah-langkah rumusnya, maka semakin tinggi levelnya di sekolah dan semakin sulit soal MTK yang dihadapi, maka akan terasa semakin menarik tantangan yang dihadapinya.

Jika kita menyadari atas penjelasan diatas, segala sesuatu yang berkaitan dengan keahlian dan keterampilan, maka pelajaran mtk tadi bisa kita jadikan acuan. Semisal di dalam keahlian menulis, dimana menulis pasti diawali dari hal yang mudah yaitu dengan menulis sebuah huruf, dan diteruskan dengan rangkaian huruf sehingga membentuk sebuah kata, dilanjutkan dengan merangkai sebuah kata sehingga menjadi kalimat sebagaimana 1 + 1 = 2, ibu + budi = ibu budi, dst. Semakin kalimat dirangkai maka akan membentuk paragraf, seperti itulah langkah-langkahnya sehingga menjadi sebuah tulisan atau artikel. Dalam sepak bola pun seperti itu, semua diawali dari hal yang mudah yaitu menendang, kemudian berlanjut dengan mengontrol bola, menggiring dan menggocek lawan.

Semua keahlian apapun dimulai dari hal termudah hingga akhirnya kita sampai kepada hal yang tersulit, jadi ketika kita ingin menguasai satu keahlian, maka mulailah dengan hal yang mudah, dan jangan memberatkan diri ini dengan hal-hal yang sulit. Nikmati prosesnya perlahan-lahan. Jangan melangkah terlalu jauh untuk melakukan hal yang sulit, sedangkan untuk melaksanakan yang mudah saja kita masih terseok-seok.

Seiring berjalannya waktu, ketika awal yang mudah sudah terbiasa dilakukan oleh kita, maka dengan sendirinya kita akan mampu melewati level-level selanjutnya yang lebih sulit, dimana ketika sebelumnya kita melakukannya dengan penuh keterpaksaan, maka kelak dengan sendirinya kita akan melakukannya dengan penuh kerelaan bahkan tanpa kesadaran alias otomatis.


Jadi setiap keahlian apapun itu PASTI dimulai dari hal yang terMUDAH. Maka berpikir positiflah, bahwa apapun itu kita pasti bisa melakukannya, menggapainya dan menguasainya. Mulai saat ini pikirkanlah apa impian kita, kemudian tetapkanlah. Lihat apa hal mudah yang bisa kita mulai untuk menggapainya, lakukanlah berulang-ulang, kemudian tingkatkanlah levelnya seiring berjalannya waktu, maka kelak nanti tanpa kita sadari, segala kesulitan yang  ditakutkan pada saat ini akan kita lakukan dengan mudah dimasa yang akan datang . Dan saat itu kita pun diluar kesadaran kita, impian tersebut telah kita gapai. Atau tanpa disadari pula, sebuah keahlian yang saat ini hanya mimpi, akan menjadi kenyataan di masa depan.

Semoga Bermanfaat

-PangeranMenulis-
@AbdulMhakin
Read full post »

Senin, 30 September 2013

Kopi Susu

1 komentar
Minuman khas di Indonesia biasanya disukai kalangan muda, yang saya sendiri belum mengetahui siapakah awalnya yang menemukan ide untuk menggabungkan antara kopi dan susu sehingga menjadi kopi susu. Rasa kopi susu cenderung manis, dan lebih didominasi oleh susu. Karena memang fungsi kopi disitu sebagai penambah rasa pahit agar rasanya menjadi bervariasi.

Segelas kopi susu bukan hanya bisa dirasakan nikmat rasanya, melainkan dibalik itu ada pelajaran penting yang bisa kita ambil darinya.

Jika diibaratkan susu yang berwarna putih adalah kebaikan, dan kopi yang hitam adalah keburukan, maka dari kopi susu kita akan belajar, seperti apakah pengaruh kebaikan terhadap keburukan begitupun sebaliknya.

Segelas susu yang mengisi penuh ruang sebuah gelas, adalah takaran sebuah kebaikan, akan tetapi ketika kita melakukan sebuah keburukan, diibaratkan dengan sesendok kopi, maka ketika sesendok kopi dilarutkan pada segelas susu, maka kita akan melihat perubahan warna pada segelas susu tersebut dari warna putih menjadi agak kecoklatan. Ini menandakan bahwa sedikit keburukan sangat berpengaruh besar pada kebaikan yang telah diperbuat, dimana jika dimisalkan di dalam kehidupan sehari-hari manusia lebih mengingat satu keburukan yang telah diperbuat seseorang dibandingkan seribu kebaikan yang telah diperbuatnya.

Sebaliknya, segelas kopi yang mengisi penuh ruang sebuah gelas, adalah takaran sebuah keburukan, akan tetapi ketika kita melakukan sedikit kebaikan, diibaratkan dengan sesendok susu, maka ketika sesendok susu dilarutkan di dalam segelas kopi, maka kita akan melihat tidak ada sama sekali perubahan warna yang terjadi pada segelas kopi tersebut, warnanya tetap hitam pekat. Ini menandakan bahwa banyaknya keburukan tidak bisa diperbaiki dengan sedikit kebaikan, melainkan dibutuhkan banyak kebaikan untuk merubah keburukan yang telah diperbuat, dimana untuk menjadikan kopi yang hitam menjadi putih, dibutuhkan berliter-liter susu yang perlahan-lahan membuat kadar kopi yang kian lama kian memudah hingga akhirnya di dominasi oleh susu, dan akhirnya menjadi putih.

Seperti inilah kopi susu memberikan pelajaran kepada kita. bahwa tidak dibutuhkan banyak keburukan untuk merusak kebaikan, karena dengan sedikit keburukan sudah bisa merusak banyak kebaikan yang telah dilakukan. Hal ini menjadi catatan penting bagi kita akan wajibnya kita menghindari keburukan walau sekecil apapun. Dan ketika kita seringkali membuat keburukan-keburukan kecil, sehingga bertumpuk menjadi keburukan yang besar, maka adalah hal yang berat ketika kita ingin merubahnya menjadi bersih kembali. Dibutuhkan banyak kebaikan yang harus dilakukan, dan jelas diperlukan pengorbanan untuk melakukan ini semua sebagaimana kita banyak berkorban ketika kita melakukan keburukan-keburukan.

Jadi, mulai saat ini marilah kita banyak melakukan kebaikan, sedikit demi sedikit. Dan berusahalah dengan maksimal menghindari keburukan. Karena sedikit keburukan bisa merusak banyaknya kebaikan, dan sedikit kebaikan akan sulit memperbaiki banyaknya keburukan. Kecuali dengan Pertolongan dari Allah. Maka itu berbuat baiklah dan mintalah Pertolongan kepada Allah. Semoga Allah berkenan untuk menghapuskan banyak keburukan yang kita lakukan.

Wallahu a’lam

Semoga Bermanfaat


-PangeranMenulis-
@abdulmhakim
Read full post »

Minggu, 29 September 2013

Menjadi eksekutor atau komentator?

0 komentar
Beberapa pekan yang lalu, telah digelar pertandingan sepak bola antara timnas indonesia melawan malaysia, tepatnya pada final piala aff usia 16 tahun. Pertandingan berlangsung dengan begitu sengit, indonesia unggul lebih dulu walaupun di akhir pertandingan tepatnya pada waktu injury time malaysia menyamakan kedudukan, hingga akirnya pertandingan berlangsung melewati perpanjangan waktu.

Pada babak perpanjangan waktu 2 x 15 menit, pertandingan berjalan alot dan tidak sama sekali tercipta gol. Ini menyebabkan pertandingan harus dilanjutkan dengan drama adu pinalti. Dua penendang indonesia berhasil mengeksekusi pinalti sebaliknya dua penendang dari malaysia gagal menjadikan tendangan pinaltinya menjadi gol. Indonesia sudah berada diatas angin. Tapi ternyata diluar dari apa yang diharapkan tiga penendang indonesia selanjutnya gagal sebailknya tiga penendang dari malaysia berhasil mencetak gol.

Tak ayal hasil tersebut membuat banyak penonton, pendukung indonesia geram, hingga akhirnya membuat komentar yang menjelek-jelekkan kegagalan para penendang pinalti dari tim indonesia, yang menjadi penyebab kekalahan bagi indonesia. Bahkan termasuk saya sendiri yang berkomentar bahwa pemain-pemain tersebut tidak becus untuk menendang, dan masih banyak komentar lainnya dari yang menonton pertandingan tersebut baik secara live maupun melalui statsiun televisi.

Beberapa waktu berlalu setelah saya berkomentar, saya menyadari bahwa saya hanya seorang komentator, jago di lisan tapi tidak becus dalam perbuatan. Hanya melihat dan berkomentar tapi tidak beraksi. Berbeda dengan sang pemain bola, dialah sang eksekutor, walaupun dia gagal di dalam mengeksekusi pinalti. Dialah pencetak sejarah, bukan pemerhati sejarah. Namanya tercatat di dalam berbagai media cetak, tertampang di berbagai media elektronik. Walaupun gagal dia tetap menerima gajinya sebagai pemain sepakbola, dan masih disebut juara walaupun di urutan kedua.

Dan komentator, tetaplah komentator. Dia tidak mendapat bayaran atas apa yang di komentarinya, dia merasa puas atas posisi nya sebagai pemberi komentar, dia hanyalah menjadi pemerhati sejarah. Seperti kebanyakan orang pada umumnya. Bukan hanya pada pertandingan sepak bola, komentator dalam hidup ini juga begitu banyak. Mereka terkadang mengomentari kegagalan seseorang, mengomentari keburukan seseorang, dll.

Sekarang, kita masih memiliki kesempatan. Kesempatan untuk melihat ke dalam diri kita, dimanakah posisi kita, eksekutor kah atau komentator. Jika posisi kita saat ini adalah seorang komentator, maka rubahlah perlahan-lahan agar kita menjadi seorang eksekutor di dalam kehidupan kita, dimana kita kelak akan menciptakan sejarah, bagi kehidupan kita khususnya dan bagi kehidupan masyarakat pada umumnya. Sejarah yang bisa mengharumkan nama kita dalam kebaikan yang tersimpan di dalam sanubari orang-orang yang berada di dekat kita atau jauh dari kita.

So, mulailah mengEksekusi..leave the komentator and go to be the eksekutor.

Semoga Bermanfaat


-PangeranMenulis-
@abdulmhakim
Read full post »

Sabtu, 28 September 2013

Sebuah Gelas Bening

0 komentar
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah Qalbu manusia”

Setiap rumah bisa dipastikan memiliki gelas, gelas yang difungsikan sebagai alat bantu untuk minum, gelas yang memiliki berbagai macam bentuk dan gelas yang terdiri dari berbagai material bahan. Satu gelas yang membuat saya tertarik untuk membahasnya adalah gelas berbahan kaca, yang bening alias transparan.

Gelas bening itu begitu menarik ketika dilihat, dia menampakkan kebersihan serta kesucian, bahannya yang bening membuat orang yang melihatnya bisa bukan hanya bagian depan sisinya melainkan bagian belakannya karena bahannya yang tembus pandang.

Gelas bening yang saya lihat berulang-ulang kali di dalam hidup saya, dan sampai sekarang pun saya terus menggunakannya, memberikan saya sebuah inspirasi untuk menuliskan sebuah tulisan yang semoga bermanfaat bagi para pembaca.

Ketika membaca hadits yang saya tuliskan di atas, seluruh tubuh kita merupakan tampilan luar yang dipengaruhi oleh bagian kecil di dalamnya yaitu qalbu. Ketika qalbu kita diisi oleh hal yang negatif, maka secara otomatis seluruh tubuh akan menampakkan aura negatif begitupun sebaliknya.

Kembali ke gelas bening, ketika kita melihat secara seksama, kondisi qalbu itu serupa dengan kondisi si gelas bening. Ketika kita mengisi gelas bening dengan air putih, maka tampilan luar akan terlihat bening sebagaimana air putih, begitupun ketika si gelas bening diisi dengan kopi hitam, maka tampilan luar gelas akan tampak hitam.

Sebagai manusia yang memiliki qalbu, maka kitalah sang pengendali qalbu, kita yang menentukan ingin mengisi qalbu kita dengan apa, apakah dengan berbagai hal negatif atau berbagai hal positif. Memang jika dilihat, gelas bening menampakkan dengan jelas seperti apa tampilan luar serupa dengan isi dalamnya. Tapi terkait dengan qalbu kita ketika kita mengisinya dengan hal negatif, memang secara nyata tidak terlihat dari tampilan luar tubuh kita, akan tetapi hal itu terasa ketika seluruh tubuh kita bergerak seiring dengan permintaan qalbu kita. Seakan tubuh menjadi pelaksana suatu pekerjaan dan qalbu adalah mandor yang memerintahkannya.

Jadi qalbu adalah bagian penting dalam kehidupan kita, penentu ke arah mana tubuh ini bergerak. Qalbu itu ibarat nakhoda yang mengarahkan kemana kapal berlayar. Oleh karena itu marilah kita kendalikan qalbu kita kepada kebaikan, karena nakhoda yang baik akan membawa kita kepada apa yang kita tuju, dan jangan sampai kita mengisi qalbu kita dengan keburukan, karena nakhoda yang buruk akan membawa kita jauh dari apa yang dituju, bahkan boleh jadi akan menabrakkan kita kepada batu karang, sehingga menyebabkan kerusakan pada dir kita.

Semoga bermanfaat

-PangeranMenulis-


Read full post »

Jumat, 27 September 2013

Sinergitas Teori dan Praktek

1 komentar
Teringat beberapa tahun yang lalu ketika saya kuliah, ada 2 mata kuliah yang saya dapatkan di 2 semester yang berbeda. 2 materi ini berbicara tentang entrepreneurship, yang pertama adalah pengantar bisnis dan yang kedua adalah kewirausahaan. 2 materi ini diajarkan oleh dosen yang sama, yang tidak usah saya sebut namanya.

Pada 2 mata kuliah tersebut, yang saya dapatkan hanyalah sekedar cerita-cerita tentang apa-apa yang diketahui oleh sang dosen berdasarkan apa yang diketahuinya yang berkaitan dengan bisnis dan perdagangan. Mengenai materi, dia ambil dari buku paket yang memang sudah biasa digunakan olehnya ketika mengajar, dan hasilnya, ketika mendapatkan pelajaran serta materi dari sang dosen apakah saya dan teman-teman langsung bersemangat untuk berwirausaha?, jawabannya nothing. Tidak sama sekali hadir semangat berwirasudaha dalam diri kami.

Kenapa yang seharusnya materi pengantar bisnis dan kewirausahaan menjadikan kita para mahasiswa semangat untuk berbisnis dan beriwausaha, malah sebaliknya, tidak menghasilkan hasrat sama sekali di dalam diri kita. Karena apa?, karena yang disampaikan oleh sang dosen hanyalah berasal dari lisannya saja tapi tidak dari hatinya. Dia hanya menyampaikan apa yang menjadi tugasnya untuk disampaikan, dia menyampaikan apa yang dia tidak laksanakan di dalam hidupnya. Jika apa yang disampaikan saja tidak dilaksanakan, maka bagaimana dengan yang mendengerkan, akan lebih kecil lagi kemungkinannya untuk melaksanakan. Dia menyampaikan pentingnya berbisnis dan berwirausaha di masa sekarang ini, akan tetapi sebaliknya dia berwirausaha.

Sebuah pelajaran penting bagi kita, bahwa bisnis dan kewirausahaan adalah pelajaran yang 75% nya adalah prakter dan 25% adalah teori. Jika 100% teori dan 0% praktek, maka bisa dibayangkan apa jadinya jika kita ikut sekolah renang, akan tetapi hanya teori yang diajarkan, dan tidak pernah sekalipun kita turun ke kolam renang. Maka sudah dipastikan kita akan jago berenang di dalam lautan khayalan kita. hehehe. Seperti itulah bisnis, kita memang butuh teori, tapi kita lebih butuh praktek, karena dengan praktek, kita akan mengetahui seperti apa keadaan di lapangan, yang seringkali berbeda 180 derajat dengan apa yang ada di teori.

So, beberapa point yang ingin saya sampaikan dari tulisan ini, yang pertama, menjadi seorang pengajar bukanlah hal yang mudah, tidak hanya dibutuhkan penguasaan akan materi, akan tetapi pengajar juga harus memiliki passion di dalam menyampaikan apa yang disampaikan. Bukan hanya menyampaikan teori, akan tetapi dia juga harus memberikan contoh konkret dalam bentuk praktek bagi para muridnya. Dan dia pun harus memberikan ruang praktek bagi muridnya, agar sang murid bisa merasakan sebuah atmosfer nyata atas teori yang telah diterimanya. Point yang kedua, segala sesuatu akan membekas di hati kita, akan terngiang di pikiran kita ketika kita mempraktekan sesuatu. Karena praktek itu sifatnya dinamis, dimana terjadi gerak pada diri kita secara fisik, bukan hanya di psikis. Dan dari praktek inilah kita akan mengetahui apakah teori yang telah di dapatkan sesuai dengan kenyataannya atau malah sebaliknya. Jadi belajarlah dan praktekanlah.

Semoga Bermanfaat

-PangeranMenulis- 
@abdulMhakim


Read full post »

Kamis, 26 September 2013

Apakah “Sarapan” kita Pagi ini?

0 komentar
Sebagaimana yang lumrah menjadi kebiasaan banyak orang di pagi hari ketika ingin memulai kegiatannya, kita memulainya dengan aktifitas sarapan pagi. Ketika mendengar kata sarapan maka akan dengan otomatis otak kita akan lansung mengarah kepada berbagai jenis makanan, yaitu nasi uduk dengan tempe orek, bihun, serta sambal kacangnya juga lontong sayur dan tidak lupa bubur ayam serta bubur kacang hijau.

Sangat menarik memang ketika berbicara makanan pada sarapan pagi, akan tetapi kali ini saya akan membahas sarapan pagi dari sisi yang berbeda, tidak ada kaitannya dengan makanan-makanan diatas, akan tetapi kali ini saya akan membicarakan tentang sarapan pagi bagi qalbu kita.

Waktu pagi merupakan waktu yang akan menentukan akan seperti apa berjalannya kehidupan kita hingga malam. Pagi hari adalah waktu yang benar-benar harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, karena kehidupan kita di mulai di pagi hari, sebuah akhir yang baik di mulai dengan awalan yang baik.

Segala aktifitas tubuh kita tergantung seperti apa kondisi qalbu kita, ketika qalbu kita dalam kondisi yang baik, maka secara otomatis tubuh akan baik pula, termasuk ketika qalbu kita berisikan energy positif maka akan dengan otomatis seluruh tubuh kita akan melakukan gerak-gerak yang positif. Sebaliknya jika kita mengisi qalbu kita dengan hal-hal negatif maka tubuh kita dengan sukarela akan mensupport bergerak melakukan hal-hal negatif tersebut.

Maka itu betapa pentingnya bagi kita untuk memperhatikan “sarapan” apa yang harus kita berikan bagi qalbu kita di pagi hari. Ketika kita melihat Al-Qur’an maka Allah memerintahkan bagi kita untuk melakukan dzikir sebagai “sarapan” kita, sebagaimana :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا.
“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepada kalian, sedang malaikat-Nya (memohonkan ampunan untuk kalian), supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” [Al-Ahzâb: 41-43]


Ayat diatas sangatlah jelas, Allah menyuruh kita untuk menjadikan dzikir sebagai “sarapan” bagi qalbu dan lisan kita. dan ini adalah sebaik-baik “sarapan” pagi. Yang dengannya kita akan menjadikan awal di setiap hari-hari kita dengan sebuah perbuatan yang super positif, yang kelak akan menghasilkan “produk-produk” positif lainnya.

Kenapa Allah SWT memerintahkan kita untuk mengawali pagi hari dengan “sarapan” dzikir?, karena Allah SWT ingin agar qalbu kita menghadapi segala hal yang akan terjadi dengan penuh ketenangan, bukan dengan ketergesaan, bukan pula dengan kecemasan, sebagaimana firman Allah :

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. [Ar-Ra’d:28]

Jadi seperti inilah seharusnya kita memulai aktifitas pagi kita, yaitu dengan “sarapan” dzikir kepada Allah. Insya Allah dengan sarapan tersebut, kegiatan kita di siang hari hingga malam hari akan terasa lebih ringan, lebih mudah dijalani dan juga akan menghasilkan sebuah keberkahan bagi kehidupan kita.

Inilah sedikit banyak, bahasan yang bisa saya berikan. Tidak mendetail terkait dengan keutamaan-keutamannya, karena bahasan ini sudah banyak sekali dibahas oleh orang-orang yang lebih ahli. Dengan tulisan ini saya hanya ingin memberikan motivasi, khususnya bagi saya pribadi dan bagi para pembaca pada umumnya. Semoga pagi-pagi selanjutnya kita menjadikan dzikrullah sebagai “sarapan” pagi kita.

Wallahu a’lam

Semoga bermanfaat

-pangeranmenulis-


@abdulMhakim
Read full post »

Rabu, 25 September 2013

Lihatlah Prosesnya, bukan Hasilnya

2 komentar
Sudah berlalu hampir dari satu minggu dan sampai saat ini belum selesai perbaikan pada rumah yang kelak akan saya tinggali, tepatnya rumah kontrakan. Sebelum memilih untuk mengontrak disitu begitu panjang proses mencari tempat tinggal yang tepat, tepat secara lokasi maupun tepat secara harga. Karena beberapa kali saya menemukan tempat yang tepat tapi jika dilihat dari harga terlalu jauh dari budget, begitupun sebaliknya secara harga memang murah tapi dilihat dari lokasi terlalu jauh.

Akhirnya setelah beberapa minggu mencari di dapat juga rumah kontrakannya. Secara biaya masuk dalam budget dan lokasi pun sesuai dengan hati. Akan tetapi dibalik itu semua masih ada beberapa hal yang harus dilakukan, tidak semudah itu bisa langsung masuk kontrakan. Dikarenakan kondisi kontrakan yang masih acak-acakan, maka jelas diperlukan perbaikan.

Sebetulnya kontrakan tersebut banyak peminatnya, dikarenakan dari sisi lokasinya begitu pas, tidak terlalu ramai dan tidak jauh dari jalan raya. Tapi ketika para peminat tersebut melihat kondisi kontrakannya, maka minat mereka langsung hilang terbang keawan. Karena kondisi atapnya rusak parah, belum lagi kebocoran di sana-sini. Makanya mereka akhirnya memilih untuk tidak mengontrak disitu. Tapi saya pribadi dengan berbagai pertimbangannya akhirnya memilih untuk tinggal disitu. Walaupun harus berkorban materil untuk perbaikan rumah kontrakan tersebut.

Saat ini proses perbaikan sudah hampir selesai, plafon mulai selesai, dan sekarang sedang dalam proses pengecatan. Dan tak ayal lagi, ketika sudah melihat kondisi seperti ini, dimana sudah diperbaiki maka jelas akan banyak orang yang berminat untuk mengontrak disitu. Bahkan mereka berani membayar diatas harga normal untuk bisa meninggalinya.

Pelajaran yang bisa diambil oleh saya dan para pembaca dari kisah saya diatas adalah, seringkali kita melihat segala sesuatunya dari hasilnya, melihat seseorang dari kesuksesannya saja, tapi jarang sekali kita melihat proses susahnya dan lelahnya di dalam meraih kesuksesan tersebut. Padahal bagian terpenting yang harus dicatat dan harus kita contoh di dalam mencapai hasil yang baik dan merengkuh kesuksesan adalah dengan mencontoh bagaimana mereka, orang-orang sukses menjalani serta menikmati prosesnya. Bukan sebaliknya kita malah seringkali terpana dan terbuai oleh hasil saja. Sehingga kita hanya menjadi orang-orang yang hanya berkhayal dan bermimpi, tapi tidak bisa merealisasikannya.


Jadi marilah mulai saat ini, kita belajar dari proses pencapaian orang-orang sukses di dalam mencapai kesuksesannya. dan setelah itu bangunlah proses kesuksesan diri kita. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang sukses di dunia dan akhirat.

Semoga Bermanfaat

-PangeranMenulis-

@AbdulMhakim
Read full post »

Selasa, 24 September 2013

Inspirasi dari Sang Pagi

1 komentar
Di setiap pagi yang begitu jelas pemandangan terhampar, di sudut kota Jakarta ini. ketika melihat suasana sekeliling dari lantai dua rumah gubuk ini, terpampang dengan jelas padatnya perumahan dan bertumpuknya mobil yang mengerumuni jalan-jalan utama. Selain suara klakson mobil yang mulai terdengar, sayup-sayup berkicau burung-burung kecil dengan suara merdunya, yang terkadang diiringi desingan pesawat yang lepas landas ke tempat yang ditujunya.

Bukan hanya itu, satu hal yang menarik ketika sinar mentari memberikan kecerahan pada sang pagi, terlihat dari pinggir kota ini sebuah pemandangan pegunungan yang bagian atapnya ditutupi awan. Tertancap kokoh sebagai paku pemancang tegaknya bumi ini. Dialah lukisan alam, yang hanya mampu diciptakan oleh Sang Maha Pencipta Keindahan.

Jikalau dihitung, jarak rumah gubuk ini dengan gunung-gunung yang indah tersebut berpulu-puluh bahkan beratus-ratus kilometer, akan tetapi keindahannya tetap terlihat dengan jelas, sejelas mata ini melihat birunya langit dan putihnya awan yang terlihat dekat, tetapi kenyataannya jauh mata memandang, tangan menggapai tak pernah sampai.

Segarnya udara pagi adalah nikmat yang begitu memikat, menghadirkan energy penyulut semangat bagi hati. Dia hanya tersedia beberapa putaran waktu hingga berganti menjadi siang dan petang hari, dan kelak akan bisa ditemukan lagi ketika malam berganti pagi yang ditandai singsingan fajar yang muncul dari ufuk timur.
Itulah sedikit banyak kisah pagi yang bisa dinikmati di tiap-tiap hari, yang sudah sewajibnya kita syukuri kepada Ilahi Rabbi. Karena tidak semua memiliki bola mata indah yang mampu memandang cerahnya sinar mentari pagi, tidak semua insan memiliki pendengaran yang mampu mendengarkan lagu sang burung yang berkicau di pagi hari dan tidak semua orang memiliki waktu untuk menikmati momen di pagi hari karena sibuknya aktifitas diri.

Marilah kita mulai pagi ini dengan menghirup udara segar perlahan-lahan, kemudian ucapkanlah Bismillahirrahmanirrahiim, walHamdulillahirabbil’alamiin. Insya Allah, dengan ucapan tadi dapat menjadikan pagi ini sebagai awal keberkahan bagi kehidupan kita hingga akhir malam nanti.
    
Semoga Bermanfaat

-PangeranMenulis-

@AbdulMhakim


Read full post »

Senin, 23 September 2013

Es teh Manis

0 komentar
Ketika kita berbicara es teh manis maka secara otomatis akan tergambar di dalam pikiran kita akan sebuah gelas bening yang berisi air berwarna kecoklatan transparan dan di gelas itu terdapat banyak butiran embun yang turun ke bawah gelas dikarenakan efek es batu yang dingin dan dinginnya menembus kepadatan si gelas.

Membayangkan rasanya, teh manis memiliki rasa yang khas, rasa yang berbeda dari minuman lainnya, manis yang diiringi dengan aroma pegunungan yang menyegarkan sehingga menghasilkan perbedaan yang mencolok dengan minuman lainnya. Sebuah minuman yang sederhana dimana Semua kalangan menyukainya dari yang muda maupun tua, dan siapapun bisa mencicipinya baik dari kalangan bawah maupun atas.

Di pasaran kita bisa melihat bagaimana produk teh manis lebih mendominasi dibanding minuman lainnya, dengan berbagai merk yang begitu banyak, coba dilihat di tiap-tiap kulkas-kulkas minuman dingin, produk terbanyak adalah teh manis.

Itulah secuil yang bisa di deskripsikan dari minuman fenomenal diatas, dan dari deskripsi diatas betapa kita bisa mengambil sebuah pelajaran, bahwa kita harus mencontoh sifat si teh manis, yaitu kita harus bersikap sederhana sebagaimana sederhananya teh manis, tapi dibalik kesederhanaannya tersimpan berbagai “manis” dan “harum” kebaikannya, sehingga dikarenakan kebaikannya itulah dia disukai oleh berbagai kalangan tua ataupun muda, bahkan semua strata kehidupan tidak perduli kaya atau miskin, mereka senang bergaul dengan si teh manis.

Jadi mulai saat ini, rasakanlah dengan hati ketika kita meminum segelas es teh manis, dan kemudian resapilah sifat-sifatnya. Semoga sifat si es teh manis bisa melekat di dalam diri kita. Sekian. ^_^

Semoga Bermanfaat

-PangeranMenulis-


@AbdulMhakim 
Read full post »

Minggu, 22 September 2013

Aku tidak suka pelajaran mengarang

1 komentar
Kata itulah yang keluar dari lisan bambang, karena hari selasa adalah hari dimana pelajaran bahasa Indonesia dan tiap dua minggu sekali pelajaran rutinnya adalah mengarang. Betapa bagi bambang mengarang adalah hal yang sulit, lebih sulit dari pelajaran matematika. Makanya bambang begitu benci dengan hari selasa, hari yang terasa lebih panas dibanding hari-hari lainnya.

Pada hari-hari selasa sebelumnya pada saat mengarang, bambang hanya menyerahkan kertas kosong bertuliskan namanya. Tapi pada hari ini mau tidak mau bambang harus menuliskan tulisan pada tulisan kosong tersebut, karena sudah beberapa kali ibu hani memperingatkan bambang agar mengerjakan pelajaran mengarang tersebut.

Alih-alih mengisi kertas dengan tulisan karangannya, bambang akhirnya mengisi tulisan tersebut dengan rangkaian kalimat, tapi rangkaian kalimat yang dituliskannya berisikan permintaan maaf kepada ibu hani karena dia memang tidak bisa mengarang dan seperti inilah tulisan bambang di dalam secarik kertas tersebut.

“ibu hani yang saya hormati, yang sudah saya anggap seperti ibu saya sendiri. Dalam tulisan ini saya ingin menyampaikan sesuatu, sesuatu yang sangatlah penting, penting bagi kelangsungan hidupku di sekolah ini. Saya akui bahwa saya begitu lemah di dalam pelajaran mengarang, jangankan mengarang untuk menulis beberapa kalimat saja bagi saya merupakan hal yang berat. Seakan saya harus memutar otak, sebagaimana putaran bumi pada porosnya, dan sebagaimana gerak memutar bumi terhadap matahari, begitu kompleks dan begitu jika harus dijelaskan.

Ibu hani yang saya selalu denger perkataannya, hari ini, jam ini, saya meminta kepada ibu dengan sangat, sangat saya berharap agar pada pelajaran mengarang ini saya diberi keringanan, keringanan akan nilai bagi saya. Mengertinya ibu terhadap keadaan saya adalah sebuah harapan besar atas pribadi yang lemah ini, pribadi yang jauh dari sempurna, pribadi yang pasti ada kekurangan di dalam diri, pribadi yang sadar, sadar akan kemampuan diri saya sebagai seorang pembelajar.

Ibu hani yang tidak pernah bosan, bosan memberikan pengajaran kepada si bambang yang kecil ini, ini adalah kata-kata terakhir dari saya, kata yang merupakan inti dari tulisan ini, ibu saya meminta maaf, maaf atas kenakalan saya yang tidak mampu mengerjakan pekerjaan mengarang ini. Saya berharap semoga ibu bisa memaklumi. Terima kasih”

Dengan berat langkah, bambang mengayunkan kakinya untuk mengumpulkan kertas tersebut, ketika ibu guru sudah menyuruh untuk mengumpulkannya, begitu juga teman-teman bambang lainnya yang juga mengumpulkan tugas mengarang tersebut. Setelah mengumpulkan tugas mengarang tersebut, murid-murid pulang sekolah termasuk bambang. Dan di dalam perjalanan pulangnya, bambang begitu galau memikirkan akan seperti apa ibu bersikap terhadap apa yang dia tulisnkan.

Singkat kata, waktu telah berlalu, di pelajaran mengarang selanjutnya, ibu hari membagikan karangan siswa dan memberikan nilai atas karangan tersebut. Semua murid dipanggil satu per satu, hingga akhirnya disebut nama bambang, dengan langkah gontai bambang mendatangi ibu guru dan mengambil kertas yang telah ditulisnya di kertas karangan tersebut. Betapa kagetnya bambang ketika melihat kertas permintaan maafnya ternyata diberikan nilai 80 oleh ibu hani. Ketika melihat ibu hani dia bertambah kaget, karena ibu hani tersenyum kepadanya. Dengan malu-malu akhirnya bambang bertanya, ibu kenapa kertas tugas saya yang bukan berisi karangan, melainkan berisi permintaan maaf malah ibu berikan nilai 80?. Ibu hani menjawab,”apa yang kamu tulis dalam kertas tersebut adalah bagian dari mengarang, tanpa kamu sadari kamu telah menulis rangkaian kalimat yang bagus, dan betapa ibu gembira bahwa kamu yang katanya tidak bisa mengarang, bisa membuat tulisan sebagus itu”.

Bambang menjawab di dalam kebingungannya, “oh begitu ya bu, Alhamdulillah bu kalo begitu, jadi saya tidak dapat nilai 0 deh, hehehe..terima kasih ya bu”. Kemudian ibu hani berkata kepada bambang “bambang, mengarang adalah pelajaran yang mudah, tidak sesulit yang kamu bayangkan. mengarang hanya membutuhkan gerak tanganmu untuk menggoreskan penamu ke dalam secarik kertas, seburuk apapun tulisanmu, engkau tidak akan disalahkan, karena judulnya mengarang, engkau bisa mengarang sendiri apa yang ingin kamu tuliskan apapun itu. Jadi pada pelajaran mengarang selanjutnya yang harus kamu lakukan adalah menulis, menulis dan menulis. Setuju bambang?”, “setuju bu” jawab bambang dengan gembira.

Semoga bermanfaat

-pangeranmenulis-

@abdulMhakim



Read full post »

Jumat, 20 September 2013

Riya itu Nilainya 0

0 komentar
Kehidupan yang kita jalani saat ini penuh lika dan liku. Terkadang kesedihan menerpa dan secara tiba-tiba datang kebahagiaan. Ada masa-masanya kita bangga dengan apa yang kita lakukan dan dapatkan, hingga secara tidak sadar terkadang muncul perasaan di dalam diri kita keinginan agar perbuatan yang kita lakukan di puji oleh orang lain yang melihatnya.

Khususnya di dalam ibadah, kadang muncul keinginan di hati kita agar ibadah yang kita lakukan dilihat oleh orang lain, semisal ketika kita bersedekah, pada saat kita bersedekah beberapa ribu, kita menyembunyikannya sebaliknya jika kita bersedekah di luar kebiasaan kita semisal ratusan ribu atau jutaan rupiah kita berharap orang-orang agar mengetahuinya, dengan begitu mereka memuji atau menyanjung kita baik secara langsung atau mereka menceritakannya kepada orang lain sehingga nama kita menjadi harum di hadapan orang-orang.

Itulah yang disebut oleh Nabi Muhammad SAW dengan sebutan Riya. Riya secara sederhana artinya memperlihatkan atau bahasa gaulnya pamer. Sedangkan pengertian secara luasnya riya berarti memperlihatkan (memperbagus) amalan ibadah semisal sholat, sedekah, puasa, haji dan ibadah lainnya, dengan tujuan agar manusia mengetahuinya dan memberikan pujian atas amalan ibadah tersebut.

Riya itu termasuk ke dalam syirik kecil, dimana Nabi Muhammad SAW sangat mengkhawatirkan umatnya agar menghindari hal ini, sebagaimana di dalam hadits :

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ
“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’.” (HR. Ahmad dari shahabat Mahmud bin Labid no. 27742)

Ketika kita melakukan suatu perbuatan dengan niatan riya, maka itu artinya syirik kecil telah kita lakukan dan kelak akan mengakibatkan hapusnya nilai ibadah yang telah kita lakukan, sebagaimana ayat Allah :

 “Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian menghilangkan pahala sedekahmu dengan selalu menyebut-nyebut dan dengan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang-orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir”. (Al Baqarah: 264)


Padahal setiap amal ibadah kita semua ditentukan oleh niatan yang ada di dalam diri kita, jika niat kita melakukan ibadah tersebut karena Allah, maka Allah akan mencatatkan baginya 1 kebaikan, tapi sebaliknya, jika niatnya melakukan ibadah bukan karena Allah melainkan karena pujian manusia, maka niatan ini adalah niatan buruk yang tidak dicatatkan baginya kebaikan. Dan itu tandanya niatan riya di dalam hati ketika ingin melakukan amal ibadah nilainya sama dengan 0 (nol).

Dengan melihat dari sedikit penjelasan diatas, maka saya akan coba buat sebuah rumus simple terkait dengan balasan atas kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas dan kebaikan yang dilakukan dengan riya.

1.       Rumus Kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas
Ibadah ikhlas = Niat lurus x Kuantitas x (Pengali Balasan 10 sd 700 atau lebih) = Pahala

Sebagai contoh :
Ali bersedekah Rp. 1.000.000 secara sembunyi-sembunyi karena dia khawatir akan dipuji orang lain jika dia bersedekah secara terang-terangan. Walaupun dalam islam sedekah terang-terangan pun dibolehkan.

Jika kita gunakan rumus kebaikan diatas maka perhitungannya seperti ini :
Ibadah ikhlas = 1 x 1.000.000 x (Pengali Balasan 10 sd 700 atau lebih) = pahala

Terkait dengan pengali balasan, maka kehendak ini ada pada Allah SWT, sebagaimana dalam ayat  :
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allahadalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah : 261)

Dan minimal 10 di dalam pengali balasan, terdapat di dalam ayat :
Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Q.S. Al-An’aam : 160)

Seperti inilah amalan yang dilakukan jika niatnya lurus karena mengharap ke ridhoan Allah.
2.       Rumus kebaikan dengan niat Riya
Ibadah Riya = Niat bengkok (Riya) x Kuantitas x (pengali balasan 10 sd 700 atau lebih) = pahala

Sebagai contoh :
David bersedekah Rp. 5.000.000 untuk pembangunan masjid, kemudian dia meminta agar namanya disebutkan telah bersedekah melalui pengeras suara dengan niat agar masyarakat mengetahuinya.
Maka rumus amalan david adalah :

Ibadah Riya = 0 x 5.000.000 x (pengali balasan 10 sd 700 atau lebih) = 0 (nol)

Jika dilihat dari rumus diatas, maka seberapa pun besarnya kuantitas dan pengali, maka pahala/balasan yang diterima oleh david adalah 0 (nol). Artinya apa yang telah disedekahkan oleh david menjadi sia-sia dikarenakan niatan riya di dalam hatinya ketika dia melakukan amalan ibadah tersebut.

Seperti itulah amalan, jika pondasi atau niatannya adalah untuk mendapatkan pujian dari orang lain, maka pujian orang lain pasti kita dapatkan. Tapi jangan berharap Allah akan memberikan balasan kepada kita. Maka mulai saat ini marilah kita terus menjaga diri dari niatan Riya. Jika ada sedikit niat riya, maka segeralah rubah dengan sekuat tenaga agar niatan itu kembali lurus. Karena dengan begitu insya Allah kelak Allah akan memberikan balasan dengan balasan yang setimpal atas apa yang telah kita lakukan.

(tulisan diatas dibahas secara singkat, agar lebih mudah dipahami. Jika ada kesalahan atau kekurangan, mohon agar dikoreksi dan diberikan tambahan)

Semoga bermanfaat


-PangeranMenulis-
Read full post »

Kamis, 19 September 2013

Menulis itu Bakat?

1 komentar
Seringkali kita dapatkan perkataan orang-orang yang ada di sekitar kita atau bahkan perkataan kita sendiri, dimana ketika kita melihat seseorang yang hebat di dalam satu hal, semisal pesebakbola lionel messi yang hebat di dalam bermain sepak bola, valentino rossi yang hebat di dalam menunggangi motor balap moto gpnya, atau kobe Bryant yang hebat di dalam olahraga basket dan masih banyak person-person lainnya, bahwa mereka hebat disebabkan bakat alam yang ada di dalam dirinya, sehingga kita sebagai pemerhati mereka hanya bisa mengagumi mereka dan merasa tidak mampu menjadi hebat seperti mereka dikarenakan kami tidak memiliki bakat seperti mereka.

Dalam hal menulis, banyak juga diantara kita yang bersifat seperti itu, dimana ketika kita membaca buku atau novel semisal karya seorang penulis seperti kang abik yang karyanya begitu unik dan mampu membuat orang-orang yang membacanya terkagum-kagum dikarenakan cerita yang dibuatnya seakan-akan nyata, kita hanya bisa bilang bahwa kang abik itu hebat, dia memang sudah memiliki bakat menulis, jadi kita tidak akan bisa menjadi hebat seperti dia di dalam menulis.

Padahal jika sadari bahwa siapapun itu, baik itu kang abik, messi, valentine rossi, mereka menjadi hebat di dalam bidangnya bukan hanya karena bakat yang ada di dalam dirinya melainkan mereka juga terus-menerus meningkatnya kualitas dirinya dengan berlatih, belajar dalam rentang waktu yang cukup lama, pantang menyerah dan bekerja keras dengan maksimal. Jika kita ingin menyamai mereka, kita pasti bisa, tapi jelas syaratnya tidaklah ringan. Jika kita ingin menyamai mereka, maka kita harus mengikuti cara-cara yang mereka lakukan untuk bisa menjadi seperti sekarang ini, semisal messi yang berlatih berlatih tiap hari berjam-jam, bahkan dia sendiri memiliki masalah pada kakinya ketika masih kecil, tapi itu semua tidak menjadi halangan baginya, dan berkat latihannya dan kerja kerasnya maka dia bisa menjadi hebat seperti sekarang ini.

Jadi jika kita memang memiliki mimpi untuk menjadi seorang penulis yang hebat, menghasilkan banyak karya, maka tidak ada lagi alasan bakat, karena pengaruh bakat hanya beberapa persen saja bagi kesuksesan kita, yang lebih berpengaruh pada kesuksesan kita adalah niat yang kuat, kerja keras dan terus-menerus menjadikan menulis sebagai sebuah kegiatan rutin kita tiap hari. Tidak ada orang yang hebat tanpa berlatih, dan tidak ada orang yang ujug-ujug langsung ahli tanpa melalui proses mencoba dan belajar.

Paksakanlah diri untuk menulis, biasakanlah menulis, apapun itu, seburuk apapun tulisan kita. Buat menulis menjadi kebiasaan dalam hidup kita, semakin sering kita menulis, maka akan semakin bertambah kemampuan menulis kita dan jelas akan semakin baik kualitas tulisan kita. Kemudian iringi kegiatan menulis tersebut dengan banyak membaca tulisan-tulisan orang yang lain, dan banyak-banyaklah meminta masukan dari penulis-penulis yang sudah senior. Insya Allah dengan beberapa cara diatas, akan memudahkan jalan bagi kita untuk menjadi penulis yang hebat. Jadi ingat sekali lagi ya, bahwa menulis bukanlah bakat, tapi menulis itu adalah sebuah kebiasaan. So biasakanlah menulis, insya Allah jadi penulis hebat bukan lagi menjadi mimpi bagi kita.


Semoga bermanfaat 

-Pangeranmenulis-
Read full post »

Rabu, 18 September 2013

Yang Terhebat

1 komentar
Akhir-akhir ini selain bersepeda, hobi saya adalah bermain sepak bola. Tapi saat ini lapangan-lapangan untuk bermain sepak bola sudah berkurang drastis dikarenakan semakin sempitnya tanah lapang yang fungsinya dirubah menjadi rumah-rumah kontrakan atau apartemen. Hal inilah yang menyebabkan semakin maraknya olahraga sepak bola yang dimainkan di dalam ruangan, yang bernama futsal.

Saya bermain futsal dalam 1 pekan bisa 1 sampai 2 kali, tergantung keinginan teman-teman saya. Karena dalam bermain futsal dibutuhkan minimal 10 pemain. Tapi ketika ingin bermain futsal yang dibutuhkan bukan hanya pemainnya tapi juga uang. Uang yang nantinya akan digunakan untuk membayar sewa lapangan.

Kebetulan kemarin malam secara mendadak saya diajak bermain futsal oleh murid dan kawan-kawan saya. Sesampainya di lapangan, dimana ada 4 lapangan, 1 lapangan di pojok kiri dimainkan oleh teman-teman kampung sebelah. Dan Satu hal yang membuat saya cukup tertarik untuk melihat mereka adalah yang telah bermain lebih dulu, sedangkan saya baru akan mulai bermain, adalah dimana ada teman masa kecil saya yang dulu bermain dengan saya sekarang dia telah menjadi pelatih sekaligus pemain futsal di tim tersebut. Padahal di tim tersebut hampir sebagian besar umurnya berada di atas dia, tapi karena kemampuan bermain futsal yang hebat diiringi pengalamannya bermain futsal di berbagai kejuaraan membuat dia dipercaya sebagai pelatih oleh kawan-kawannya.

Di sisi lain, dibandingkan dengan teman saya diatas, saya pribadi bermain futsal tidak sebagaimana dia yang memang serius dan berlatih rutin setiap hari, karena saya hanya menjadikan futsal sebagai olahraga dan hiburan semata. Berbeda dengan dia yang memang sudah menjadikan futsal sebagai bagian terpenting dalam hidupnya, dia pun menjadikan futsal buka hanya sebagai olaharga semata, melainkan baginya futsal adalah sebuah kegiatan yang bisa menghasilkan uang.

Para pembaca yang budiman, ketika kita melihat cerita diatas, ada hal terpenting yang perlu citatat, bahwa seseorang akan dibilang hebat ketika memang kemampuan dia di dalam hal yang dia sukai dia menguasainya dengan baik juga kemampuan dia di dalam hal tersebut sudah diakui oleh banyak orang. Dan sebutan hebat akan muncul dari orang-orang kepada seseorang yang memang dia bisa melakukan hal yang terbaik di dalam sebuah aktivitas dan hasil atas usahanya jauh diatas rata-rata orang, sebagaimana teman saya diatas.

Semoga bermanfaat

-PangeranMenulis-
Read full post »
 

Copyright © PangeranMenulis Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger